> Gugus Sekolah Ki Gede Mayung: MENGUBAH BUDAYA KERJA

MENGUBAH BUDAYA KERJA

Keliatannya  Negara  Indonesia  yang kita cintai ini masih  terhitung  sebagai  negara berkembang,  dan  sangat  sulit  diprediksi  berapa  tahun  lagi  waktu  yang dibutuhkan untuk mengubah  statusnya menjadikan negara maju. Bangsa ini ingin  terus  mengejar  ketertinggalan  yang  amat  parah,  yang  diwarisi  era kolonialisme yang amat panjang.

Di  era  tinggal  landas  ini,  seluruh  potensi  bangsa  dan  segenap  unsur kemasyarakatan  diharapkan  telah  matang  secara  optimal  dikerahkan  untuk mencapai  kehidupan  berbangsa  yang  cerdas,  maju,  adil,  dan  makmur,  baik spiritual  maupun  material.  Perjuangan  untuk  menuju  bangsa  yang  maju, ternyata, bukanlah upaya yang mudah.

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), bangsa Indonesia  masih  lebih  banyak  mengejar  ketertinggalan,  dibanding  diakui sebagai  penemu  atau  penentu  kemajuan  Iptek  apalagi  pelopor,  meskipun telah  ada  di  antara  anak  bangsa  ini  yang  mampu  menjadi  tenaga  ahli  di negara maju.
Persoalan kemajuan bangsa amat sangat ditentukan oleh kualitas anak bangsa, dan  salah  satu aspek  yang  turut menentukan  kualitas bangsa  adalah budaya  yang  mereka  bangun  dan  wujudkan  dalam  berbagai  aktivitasnya, baik  sebagai  pribadi  maupun  sebagai  anggota  komunitas  dari  suatu organisasi/lembaga/masyarakat di mana ia berada.

Mencoba menilik budaya kerja SDM bangsa Indonesia, masih banyak dijumpai  di  berbagai  lembaga  maupun  organisasi,  budaya  kerja  yang mengundang  rendahnya  kinerja.  Misalnya:  budaya  kerja  santai,  kerja seadanya,  menunda-nunda  pekerjaan,  lebih  senang  mencontoh  dari  pada mencipta,  bekerja  hanya  karena  ingin  mendapatkan  penghasilan,  bekerja karena  takut  pada  pimpinan,  bekerja  hanya  karena  takut  tidak  dapat memenuhi  kebutuhan  pokoknya,  bekerja  tanpa  target  yang  jelas  sehingga banyak  waktu  yang  terbuang,  menghindar  dari  kesulitan,  bekerja  untuk kesenangan diri, dan masih banyak budaya lainnya, yang tanpa disadari turut menentukan mutu SDM anak bangsa ini.

Hampir  di  semua  bidang  kerja  dan  lembaga/organisasi    yang  tidak punya komitmen budaya yang jelas, budaya  kerja dengan kinerja rendah ini terlihat pada sebagian kecil, atau mungkin sebagian besar karyawan/anggota organisasi/lembaga  itu.  Misalnya,  seorang  pedagang  dituntut  menjadi pelayan  yang  baik,  karena  kesuksesannya  turut  ditentukan  oleh  kepuasan pelanggan.  
Tapi  masih  ada  pedagang  yang  tidak  peduli  itu.  Seorang  guru sebelum  mengajar  harus  membuat  perencanaan,  tapi  masih  ada  yang  tidak melakukan karena menganggap mengajar adalah pekerjaan sederhana, cukup dengan  modal  kemampuan  berbicara.  Seorang  pimpinan  biasa  datang  tidak tepat  waktu, karena merasa berkuasa.  

Seorang dosen dituntut untuk disiplin dalam  mengajar,  melayani  mahasiswa  dengan  ramah,  melakukan  kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ternyata, tidak semua dosen melakukannya. Seorang karyawan bisa jadi dalam seharian bekerja di kantor hanya  diisi  dengan  ngobrol,  baca  koran,  main  games, karena  dia  bekerja hanya kalau ada yang mengawasi dan barangkali ada juga yang kebingungan dengan apa yang harus dia kerjakan dan masih banyak contoh lainnya.

Bagaimana menurut Anda .. ?  dari sebuah yang terbaca serta kelihatan akan budaya kita seperti ini. Salah satunya dalam bidang Pendidikan penanaman karakter manusia belum tergambar arahnya sebagian besar telah tampak hasil lemahnya keseriusan budaya kerja yang lemah,semoga .

No comments:

Post a Comment

Selamat datang di Bllog kami , ditunggu komentar ya , terima kasih